Concert of Europe dan Munculnya Konsep Balance of Power - Jurnal Zidan Patrio

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 16 Agustus 2021

Concert of Europe dan Munculnya Konsep Balance of Power

Sumber gambar: ehne.fr

Pasca ditandatanganinya perjanjian Westphalia tahun 1648, wilayah-wilayah di eropa diberikan kewenangan untuk mengatur negaranya sendiri berdasarkan cita-cita nasional dan terbebas dari kekuasaan otoritas gereja.

Beberapa dampak lanjutan dari perjanjian ini mulai bermunculan, seperti tumbuhnya representative government, perkembangan hukum internasional, hingga revolusi industri. 

Tidak hanya itu, perjanjian Westphalia juga mulai membangkitkan semangat nasionalisme dan revolusionisme masyarakat eropa, utamanya Perancis. Perancis yang saat itu dipimpin oleh Louis XVI membuat rakyat perancis ‘gemas’ kepada raja mereka itu. Bagaimana tidak, dalam kekuasaanya rakyat perancis banyak menderita karenanya.

Kesewenang-wenangannya berupa penarikan pajak yang besar kepada rakyat yang saat itu masih masyarakat agraris membuat rakyat perancis marah besar sehingga meletuslah revolusi perancis tahun 1798.

Prinsip-prinsip yang digaungkan masyarakat perancis saat itu terkenal dengan “Liberty, Equality, Fraternity” yang berarti kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan. Prinsip-prinsip ini menyiratkan berakhirnya aturan aristokratik di perancis, namun yang lebih penting dari itu suatu penegasan bahwa negara adalah milik rakyat dan raja tidak bisa lagi mengatakan “Negara adalah saya”.

Setelah berakhirnya rezim lama di perancis dengan diturunkannya Raja Louis dari tahta, kepemimpinan di gantikan oleh kaisar baru yaitu Napoleon Bonaparte. Dibawah kekuasaannya ia menghormati prinsip kedaulatan rakyat dan memerintah berdasarkan aspirasi dari rakyat perancis.

Revolusi menjadikan semua warga sama dimata hukum, membuka bagi setiap orang lapangan pekerjaan, menghapus perbudakan, dan mengubah sistem penarikan pajak menurut mereka sendiri. Karena hal-hal inilah rakyat perancis senang dengan kepemimpinan Napoleon.

Karena kesuksesan memimpin ini pula Napoleon berpikir untuk menyalurkan semua gagasan-gagasan ini ke seluruh penjuru Eropa. Maka dimulailah masa-masa ekspansionisme Napoleon ke seluruh Eropa. Ia mulai melakukan berbagai upaya untuk menaklukkan eropa seperti memperkuat pasukan dengan merekrut banyak orang.

Dalam ekspansionisme Napoleon ini setidaknya hampir seluruh daratan eropa berhasil dikuasai olehnya seperti belanda, swedia, italia, Austria, spanyol, dan Polandia. Tindakannya ini membuat beberapa negara di eropa marah kepadanya. Empat kekuatan besar, Inggris, Prussia, Rusia, dan Austria menganggapnya penjahat dan mengarahkan pasukannya ke paris.

Tahun 1815, Pasukan gabungan orang-orang inggris, belgia, belanda, dan jerman di bawah komando duke of wellington berusaha mengalahkannya hingga akhirnya di sebuah daerah di sekitar Waterloo, sebelah selatan brussel, pasukan Napoleon berhasil ditundukkan. Napoleon kemudian turun tahta lalu di asingkan di pulai karang St. Helena selama enam tahun lalu meninggal pada usia 52 tahun.

Setelah berakhirnya masa ekspansionisme, masyarakat eropa berada dalam kebimbangan. Saat itu tahun 1814 dimana Napoleon diasingkan di pulau Elba (tempat pengasingan pertama), Sebuah kongres internasional diadakan di Vienna guna mengembalikan kedaulatan dan memperbarui peta politik di eropa pasca ekspansionisme.

Negara-negara kembali disusun berdasarkan perimbangan kekuasaannya. Kongres itu kemudian diakhiri delapan bulan kemudian dengan penandatanganan dokumen Final Act Of the Congress of Vienna pada juni 1815. Kongres tersebut dipimpin oleh empat negara pemenang yaitu Inggris, Prussia, Russia, dan Austria dengan kanselir Metternich sebagai presiden.

Selain itu turut juga dihadirkan beberapa delegasi dari wilayah eropa lainnya. Perancis pun diikutkan pada 1818 karena negara sekutu khawatir Perancis yang terisolasi pasca perang Napoleon akan kembali berkembang menjadi ancaman permanen. Tujuannya adalah untuk bekerjasama membangun kembali keseimbangan di Eropa dan mencegah ekspansionisme untuk yang keduakalinya. Masa-masa setelah kongres ini dinamakan “Concert of Europe”.

Concert ini didirikan atas dasar perimbangan kekuasaan (Balance of power) dimana tidak adanya perang karena setiap negara mengupayakan untuk tidak terlibat dalam peperangan. Meskipun beberapa kali terjadi peperangan, tapi hal ini dapat diatasi berkat kenetralan setiap negara di eropa saat itu.
Hal ini terus bertahan hingga satu abad kemudian dimana concert ini jatuh Karena pecahnya perang dunia I di tahun 1914. Mungkin pada akhirnya, satu-satunya hasil yang sangat baik dari kongres Vienna ini adalah tidak terjadinya peperangan selama satu abad dan ini belum pernah terjadi sebelumnya dan mungkin tidak akan pernah terjadi lagi hingga beberapa tahun kedepan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar